
Pamit Dari BMKG, Daryono Tak Lagi Jabat Direktur Gempa
Pamit Dari BMKG, Daryono Tak Lagi Jabat Direktur Gempa Yang Langsung Di Sampaikannya Secara Daring Kepada Rekan Media. Berita tentang pengunduran diri Dr. Daryono sebagai Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG. Terlebih yang menjadi perhatian publik Indonesia pada awal tahun 2026. Sebagai salah satu wajah lembaga yang sering tampil di publik ketika terjadi gempa, keputusannya mundur dari jabatan ini tidak hanya mengejutkan masyarakat. Akan tetapi juga memicu banyak pertanyaan tentang alasan di balik keputusan tersebut. Dan apa artinya bagi mitigasi bencana di masa mendatang. Keputusan Daryono untuk pamit dari BMKG bukanlah sesuatu yang terjadi tiba-tiba. Ia secara resmi mengumumkan pengunduran dirinya kepada media pada Jumat, 13 Februari 2026, sekaligus mengajukan pensiun dini dari institusi yang selama puluhan tahun menjadi rumah pengabdiannya. Meski demikian, berita ini justru membuka ruang diskusi baru. Terlebihnya tentang posisinya dalam edukasi publik dan peran pentingnya selama ini.
Keputusan Mundur Dan Langkah Pensiun Dini
Fakta pertama yang patut di catat adalah Keputusan Mundur Dan Langkah Pensiun Dini dari jabatan Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG. Dalam pengumuman yang di sampaikan kepada wartawan, ia menyatakan bahwa pengunduran dirinya bukan hanya sekadar pergantian posisi. Akan tetapi juga bagian dari rencana pensiun dini yang ia ajukan kepada lembaga. Meski posisinya sebagai direktur sudah di tinggalkan, sosoknya memastikan bahwa hubungan dan kontribusinya terhadap ilmu kegempaan tidak akan berhenti begitu saja. Ia berjanji akan tetap aktif dalam memberikan edukasi publik. Terutama soal gempa bumi dan tsunami. Terlebih yang di anggapnya sebagai tanggung jawab ilmiah sekaligus moral di negara yang sangat rawan bencana. Transisi dari bekerja secara struktural di BMKG menuju peran yang lebih bebas sebagai edukator menunjukkan betapa besarnya komitmen pribadinya terhadap masyarakat. Di mata banyak orang, ia bukan sekadar pejabat yang memberi informasi. Akan tetapi juga figur yang selama ini menjadi jembatan antara data ilmiah dan kesadaran publik.
Perjalanan Karier Dan Jejak Prestasi Di BMKG
Selanjutnya, fakta kedua yang menarik adalah Perjalanan Karier Dan Jejak Prestasi Di BMKG sebelum akhirnya mundur. Lahir di Semarang pada 21 Februari 1971. Dan ia menapaki karier dari staf teknis hingga mencapai puncak jabatan sebagai direktur sejak 2022. Pendidikannya yang kuat dalam meteorologi dan geofisika menjadi fondasi penting dalam tugasnya. Tidak hanya berfokus pada aspek teknis pemantauan gempa. Dan ia juga di kenal aktif mempublikasikan ratusan artikel ilmiah dan aktif di media sosial memberikan penjelasan seputar kegempaan kepada masyarakat luas. Perjalanan kariernya yang panjang menunjukkan bahwa sosoknya tidak hanya sekadar pengambil keputusan dalam ranah teknis. Akan tetapi juga figur yang memberikan warna dalam cara mereka berinteraksi dengan publik. Banyak warga yang mengenalnya karena gaya penyampaiannya yang lugas dan mudah di pahami. Terutama ketika menjelaskan gempa yang terjadi di Indonesia atau luar negeri.
Komitmen Edukasi Dan Warisan Peran Di Masa Depan
Ketiga, selain keputusan mundurnya dari struktur formal, sosoknya menegaskan Komitmen Edukasi Dan Warisan Peran Di Masa Depan. Ia menyadari bahwa Indonesia berada di wilayah Ring of Fire, daerah yang rawan gempa dan tsunami. Sehingga pemahaman publik tentang bencana alam menjadi hal yang sangat krusial. Dalam sejumlah pernyataannya, ia menyatakan bahwa pendidikan publik soal kegempaan adalah bagian favoritnya dari pekerjaan yang di jalani selama ini. Bahkan di luar perannya di BMKG, ia berencana tetap menjadi rujukan. Ketika masyarakat atau media membutuhkan penjelasan ilmiah yang akurat.
Peralihan perannya dari pejabat lembaga menjadi pendidik independen bisa menjadi peluang baru untuk memperluas dampak positifnya. Bukan tidak mungkin, langkah ini justru membuat wawasan kegempaan yang selama ini ia sampaikan bisa lebih menyentuh kalangan masyarakat yang lebih luas lagi di luar konteks formal lembaga. Keputusannya pamit dari BMKG mengakhiri satu babak dalam sejarah informal mitigasi gempa di Indonesia. Namun sekaligus membuka babak baru yang penuh harapan: bahwa edukasi dan kesadaran kebencanaan dapat terus berkembang. Bahkan ketika seorang figur penting tidak lagi berada dalam struktur institusi yaitu si sosok Daryono.